Wednesday, September 20, 2006

Ujung sebuah penantian



Diujung jalan
yang membentang membelah lautan
sendiri menanti
datangnya perahu yang menjemput hatiku...
namun tiada juga datang.

di tepi lautan yang tak bertepian,
menanti aku hadirmu
yang tak kunjung juga datang

aku membencimu
dengan hati yang mulai retak redam
yang tidak juga kau sembuhkan
dengan senyummu
dengan tawamu

aku tidak mencintaimu
karena tidak kau datang
hadir
dan menjemputku

janganlah kau hadir lagi
disini
...
jangan pernah kembali
lagi...

Helai demi helai daun jatuh
merah warnanya..
meninggalkan dahan yang tetap diam
tak bergerak...

helai demi helai bunga gugur..
terbuai..
terbawa angin senja
menjauhi rantingnya

hingga tersisa
sebatang pohon yang diam
dan tetap mengakar kebumi...
yang lambat laun mengering
tanpa indahnya daun
tanpa wanginya buma...

terasa pula waktu berlalu
detik demi detik
menit dan jam pun menghilang
jauh menghilang...

hingga esok..
mati menjelang
dan menyesal..

suatu saat di jembatan antara hati kita


Bayangkan kita berdiri di tepi jembatan...
yang menjembatani antara dua tepi yang berbeda..
diantaranya air mengalir tiada henti..
yang menggerus tepi masing-masing diantara kita
dan menjauhkan kita..
se inchi demi seinchi...

meski jembatan itu ada,kita tidak beranjak
hanya bisa saling menatap
dan terikat ke tepi kita masing-masing
dengan ego yang mengikat kita
pada tepian kita..

hingga akhirnya kita tenggelam
terseret aliran sungai
menjauh dari diri kita yang sebenarnya...
dan melarutkan kita dalam perbedaan
yang bagaimanapun tetap ada

kenapa tiada kita melangkah,
meniti jembatan itu
dan mempertemukan hati kita..
melepaskan ego kita??


cinta tidak buta...
hanya kita yang tidak memahami
bahasa cinta

dony yang kesepian